Postingan

Sebuah Surat dari Kartini

Gambar
Tahun 1903, kalangan intelektual dan pemerintah Hindia Belanda gempar, disebabkan berita mengenai seorang inlander (pribumi); pemuda Minangkabau (dibesarkan di Riau) yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Batavia; bernama Agus Salim. Dia lulus dengan nilai terbaik di seluruh Hindia Belanda (waktu itu ada 3 HBS di Hindia Belanda). Bukan saja untuk satu bidang studi, nilai-nilainya untuk bidang Ilmu Sosial, Ilmu Pasti, bahkan bahasa Belanda, terbaik di seluruh Nusantara. Sayangnya dia berasal dari keluarga dengan keadaan finansial pas-pasan.    Kabar tentang anak jenius berusia 19 tahun ini dengan cepat menyebar, dan terdengar juga oleh Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan asal Jepara. Hatinya begitu tersentuh. Dia kemudian menulis surat untuk kepada temannya, Ny. Abendanon, istri pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda bidang pendidikan. Waktu itu Kartini berusia 24 tahun, dan Agus Salim 19 tahun. Demikian bunyi suratnya, paman kutip dari buku "100 Tahun Haji Agus Sal...

The Deaf World

Gambar
   Coba bayangin kalau suatu hari, secara mendadak Tuhan mencabut pendengaran setiap manusia (maksudnya kemampuan manusia untuk mendengar dihilangkan). Alhasil jadilah kita sekumpulan makhluk sexy tuli. Hii... Na'udzubillahi min dzalik, jangan sampai deh!. Tapi mari kita teruskan berimajinasi, bagaimana jadinya dunia 'tanpa telinga'.    Awalnya jelas, kekacauan akan terjadi dimana-mana; mobil-mobil pada tabrakan, penyeberang jalan pun banyak yang ngga selamet gara-gara ngga denger suara klakson; pesawat-pesawat pada jatuh, hilang, atau paling mending terpaksa mendarat darurat, karena para pilot ngga bisa berkomunikasi sama orang di bandara, mereka ngga tau harus mendarat di landasan nomor berapa; orang-orang banting HP karena dikira rusak; headphone, earphone, klephone diinjak-injak; kacau deh pokoknya, yang jelas kita-kita pada nangis.    Selanjutnya kaya di film-film, pemerintah Amerika mulai ribut, CIA ditugasin nyelidikin sebabnya orang-orang pada bud...

Fraksi Mahasiswa

Gambar
Assalaamu'alaikum....Halo, para keponakan...     Ide yang paman kembangkan untuk tulisan ini sebenarnya udah pernah paman pakai untuk mengirim artikel untuk rubrik 'Debat Mahasiswa' di harian Suara Merdeka. Tapi karena ga dimuat, jadi paman tulis di sini aja. Artikel itu udah lama dikirimnya, jadi kemungkinan besar sekarang udah dihapus sama redaksi atau masuk spam. Kalo dipost di sini kan ada kemungkinan dibaca.    Jadi begini inti ide paman... Kalian tentu tau kan, bahwa para aktivis mahasiswa itu senengnya demo, segalamacem kebijakan pemerintah dijadikan bahan untuk berunjukrasa. Nah, apakah itu didengar oleh para pemimpin daerah atau pemimpin negeri? Dengar sih dengar, orang mereka punya kuping, dan para mahasiswa itu teriaknya pada keras-keras. dan kalaupun ruang kantor pejabat itu kedap suara, setidaknya mereka kan bisa liat di tivi. Tapi yang paman maksudkan adalah, apakah demonstrasi mereka itu dijadikan bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan da...

Jalan Kaki

Paman sering dianggap aneh oleh kawan-kawan di kampus karena paman sering berjalan kaki. Lho... seharusnya ini tidak aneh, jalan kaki kan menyehatkan... apalagi menurut para ahli kesehatan : jalan kaki adalah olahraga yang termurah. Juga untuk jarak dekat, orang memang disarankan untuk berjalan kaki saja, atau bersepeda, daripada naik motor atau mobil... sama saja menyumbang asap untuk atmosfer dunia. Lalu mengapa saya dianggap aneh? Hoho... karena paman, dengan hobi berjalan kaki ini, telah melakukan perjalanan-perjalanan yang umumnya dilakukan di atas jok motor atau mobil, dengan berjalan kaki.  Wonodri-Tembalang Paman seorang adalah (mantan) Mahasiswa di kota Semarang, tepatnya di Universitas Diponegoro kampus Tembalang, yang letaknya di daerah bagian selatan kota, yang sering disebut penduduk setempat sebagai 'Semarang Atas'. Sebagai seorang mahasiswa, paman selalu membutuhkan buku-buku penunjang kegiatan perkuliahan atau untuk melakukan penelitian, namun ser...

Sindrom Ikalisme

Siapa tak kenal tetralogi novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata , yang keempat-empatnya bercerita tentang kehidupan Ikal --yang merupakan representasi dari diri pribadi penulis, yang memang berambut ikal. Masa kecil si Ikal ini diceritakan dalam buku pertama tetralogi tersebut, berjudul Laskar Pelangi . Ikal adalah anak melayu Belitung (dalam novel tertulis 'Belitong'), ayahnya seorang kuli PN Timah, sejenis BUMN yang bergerak di bidang penambangan timah di pulau Belitung, ibunya tidak bekerja. Maka mereka adalah kaum miskin. Nah, meskipun demikian, ayah Ikal tetap menyekolahkannya, tentu saja dengan harapan bujangnya itu kelak tidak mengikuti jejak ayahnya menjadi tukang sekop bijih timah. Wabakdu masuklah si Ikal di SD Muhammadiyah Gantong, sebuah sekolah yang nyaris ditutup lantaran kekurangan murid. Di sekolah inilah Ikal bertemu kawan-kawannya yang luar biasa, antara lain Lintang, anak pesisir dengan kecerdasan tingkat tinggi yang tidak lazim dimiliki seorang anak SD d...

Efek Kupu-Kupu

Efek kupu-kupu ( Butterfly effect ) adalah istilah untuk sebuah teori Chaos. Istilah ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brazil dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian      Sudah baca teks diatas? bisa membayangkan? percaya ngga sama teori tersebut? Hmm.. Kalau paman sih percaya saja, toh yang dikatakan disitu adalah ' dapat menghasilkan... ' bukan ' pasti menghasilkan... ', sepakat? memang begitulah semua yang namanya teori. Sebab para pencetus berbagai teori toh manusia biasa, sepintar apapun mereka, mereka cuma menerka-nerka saja iya kan? , jangankan cuma teori, lha wong yang sudah 'naik pangkat' jadi Hukum saja belum tentu cocok di segala kondisi kok! contohnya ya Hukum Newton. Sebelum ada Mekanika Kuantum sama Teori Relativitas, para ilmuwan kan yakin bahwa segala gerakan  materi di alam semesta ini 'patuh' sama Hukum Newton, namun  akhirnya 'ketahuan' bahwa ternyata untuk b...

Kepriben Kiye Nasibe "Enyong"?

Lho.. lho.. lho.. kok paman disuruh bersabar? Oohh, oalah.. jadi kamu kira paman sedang meratapi nasib paman? Hahaha, bukan, bukan. Liat tuh, "Enyong"nya pake tanda petik kan? Jadi maksud paman ini bukan nasib paman sendiri, tapi nasib bahasa per-"enyong"-an. Iya, bahasa Tegalan dan bahasa-bahasa daerah lain di Indonesia ini.  Huss! ga usah dipikirin bagaimana? baca nih, artikel di situs "Raja Ali Haji" : Kendari, Sultra - Ratusan bahasa daerah di nusantara terancam punah karena sudah semakin jarang digunakan. Perlu ada upaya penyelamatan jika kekayaan budaya bangsa itu ingin dipertahankan. Hal itu dikemukakan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Pudentia MPSS di sela-sela lokakarya internasional "Celebrating Diversity" yang digelar di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (8/9/2011). "Banyak bahasa daerah yang terancam punah jika tidak segera dilakukan upaya penyelamatan dengan berbagai cara, salah satunya pendokumentasian...