Postingan

Dermawan

Seperti benda yang panas, yang menyalurkan panasnya ke segala arah, seorang dermawan memberikan apa yang ia punya sehingga apa yang ia miliki sebanding dengan orang lain. Dia tidak akan pernah kehabisan hartanya, ia tak akan jatuh miskin. Sebagaimana suatu benda tidak akan kehilangan panasnya, dan anjlok ke suhu nol mutlak.

Sejarah

   10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu.    Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana ora...

Akihito

Gambar
Bayangin deh, pagi-pagi saat kamu menggeliat di tempat tidur, tanganmu menyenggol seseorang di sebelahmu. Pasti kamu kaget. Dan kamu bakalan lebih kaget, kalo saat kamu ngeliat mukanya, ternyata dia Akihito... Kaisar Jepang. Pasti kamu garuk-garuk kepala sambil mikir, 'Kenapa dia bisa ada di sini?'... Kaisar Akihito

Tawaran Terakhir

"DATANG dan pekerjakan aku," teriakku, sementara pagi hari aku berjalan di atas jalan berdebu. Dengan pedang di tangan, Raja datang dengan kereta perang. Dia menggenggam tanganku dan berkata, "Aku akan menyewamu dengan kekuasaanku." Tetapi kekuasaan tidak berarti apa-apa, dan dia pergi bersama kereta perangnya. Di siang bolong, rumah-rumah berdiri dengan pintu terkunci. Aku menyusur di atas jalan yang menikung. Lalu seorang lelaki tua datang dengan kantong penuh emas. Dia tertegun, lalu berkata, "Aku akan menyewamu dengan uangku." Dia menghitung keping demi keping, tetapi aku berpaling. Petang datang. Pinggiran kebun penuh bunga bermekaran. Pelayan cantik datang dan berkata, "Aku akan mempekerjakanmu dengan senyumku." Senyumnya pucat dan meleleh dalam air mata, dan dia berlalu sendiri dalam gelap. Matahari memapar pasir, gelombang laut membabibuta. Seorang anak sedang bermain dengan kerang. Dia mengangkat tangan dan tampaknya men...

Ketika Bulan Jatuh (Part II)

Oke, ngelanjutin resensi kemarin... Singkat aja ya... ... Maka, seperti yang dikehendaki pemerintah, masyarakat tetap tenang. Bahkan ketika malam Bulan purnama, dan Bulan tampak lebih besar dari biasanya, alih-alih ketakutan, orang-orang justru senang dan berharap Bulan selamanya tampak sebesar itu. Akhirnya setelah bunker-bunker selesai dibangun, melalui gereja, masyarakat diberitahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Maka gemparlah dimana-mana. Di sisi lain, Edgar Hopkins merasa lega karena tidak lagi menyimpan rahasia--sekarang ia bisa bercerita dan bertukar pikiran dengan orang-orang mengenai bencana yang diramalkan akan terjadi itu. Hari berganti hari, tibalah hari yang menurut kalkulasi para ahli Bulan akan pecah dan jatuh pada hari itu. 3 Mei, jam 8 malam. Sejak pagi orang-orang bersiap untuk masuk ke bunker perlindungan. Namun Hopkins berniat akan tinggal di rumahnya sendiri, apapun yang akan terjadi. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia sendiri yang ingin tinggal di...

Ketika Bulan Jatuh (Part I)

Gambar
Setelah paman resign dari universitas konvensional, paman mendapat banyak kesempatan untuk membaca buku-buku yang paman sukai. Tapi paman masih mengikuti kebiasaan lama ketika mendekam di perpustakaan, dan dalam hal meminjam buku; hari Senin-Kamis buku-buku serius (filsafat, politik, ekonomi, sastra lama, dll.), koran n majalah (tak lupa majalah 'Penjebar Semangat'); dan hari Jum'at paman biasa meminjam buku untuk bekal weekend (meskipun sekarang weekend atau tidak, sama saja). Biasanya yang paman pinjam di hari Jum'at adalah novel, antologi puisi, buku sejarah, atau kumpulan esai Goenawan Mohamad (yang belum juga selesai paman baca).    Nah, Jum'at pekan lalu dalam rangka mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris, paman memilih novel terbitan Longman, yang bahasanya sudah disederhanakan dengan glosarium yang lengkap pula (cocok buat yang sedang beralih dari intermediate ke advanced ), dan buku biografi Haji Agus Salim yang dari buku tersebut, telah paman post k...

Sebuah Surat dari Kartini

Gambar
Tahun 1903, kalangan intelektual dan pemerintah Hindia Belanda gempar, disebabkan berita mengenai seorang inlander (pribumi); pemuda Minangkabau (dibesarkan di Riau) yang bersekolah di HBS (Hogere Burger School) Batavia; bernama Agus Salim. Dia lulus dengan nilai terbaik di seluruh Hindia Belanda (waktu itu ada 3 HBS di Hindia Belanda). Bukan saja untuk satu bidang studi, nilai-nilainya untuk bidang Ilmu Sosial, Ilmu Pasti, bahkan bahasa Belanda, terbaik di seluruh Nusantara. Sayangnya dia berasal dari keluarga dengan keadaan finansial pas-pasan.    Kabar tentang anak jenius berusia 19 tahun ini dengan cepat menyebar, dan terdengar juga oleh Raden Ajeng Kartini, putri bangsawan asal Jepara. Hatinya begitu tersentuh. Dia kemudian menulis surat untuk kepada temannya, Ny. Abendanon, istri pejabat tinggi pemerintah Hindia Belanda bidang pendidikan. Waktu itu Kartini berusia 24 tahun, dan Agus Salim 19 tahun. Demikian bunyi suratnya, paman kutip dari buku "100 Tahun Haji Agus Sal...