Postingan

Tegas Tanpa Menindas

Gambar
 Menghadapi karyawan di tempat kerja merupakan bagian dari tanggung jawab seorang atasan. Sebagai atasan, kita harus mampu menjalankan peran kita dengan tegas dan profesional, namun juga harus memperlakukan karyawan kita dengan hormat dan tidak menindas mereka. Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghadapi karyawan di tempat kerja agar kita sebagai atasan bisa tegas tapi tidak terkesan menindas: 1. Bersikap adil: Jadilah atasan yang adil terhadap semua karyawan. Jangan memperlakukan seseorang lebih baik atau lebih buruk daripada yang lain hanya karena faktor-faktor seperti ras, jenis kelamin, agama, atau status sosial. 2. Komunikasikan dengan jelas: Pastikan bahwa kita selalu memberikan instruksi atau petunjuk yang jelas kepada karyawan kita. Jangan merasa ragu untuk menjelaskan secara detail apa yang diinginkan atau diharapkan dari karyawan kita. 3. Dengarkan keluhan dan saran: Jadilah atasan yang terbuka terhadap keluhan atau saran yang disampaikan oleh karya...

Uncle is back

 Check.. satu dua tiga.. Yuk ah, mulai ngeblog lagi

New Stage of Life

Terakhir kali paman bikin posting di sini, paman masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Masih idealis, cita-citanya setinggi langit, naif bukan main. 3 Tahun lebih telah berlalu, pahit manis kehidupan telah paman rasakan, sementara penyesalan tak kunjung hilang. Penyesalan telah meninggalkan Undip, penyesalan atas sikap pragmatis paman yang begitu bodoh. Tapi dalam masa 3 tahun lebih ini, telah datang pula saat-saat manis. Kehidupan yang layak di Jakarta, dan kesempatan bertualang ke beberapa kota. Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Sekarang paman menganggur di rumah. Hiks :'( Namun, tenang... paman belum putus asa, harapan masih ada.. Target paman : lulus S1 di usia 27/28 tahun, langsung ambil S2, riset riset dan riset, lanjut S3, kejar gelar Pofessor. Meraih cita-cita duniawi : FFC (Farm, Factory, and Classroom). Bismillah...

Blur

   Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain.     Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, keti...

Bisul

Namanya Bambang Sulistyawan, tapi dalam percakapan di antara kami, mahasiswa, kami menyebutnya Pak Bisul. Tampaknya ia adalah seorang dosen di Fakultas Kedokteran. Dalam birokrasi Universitas, tampaknya dia bertugas memastikan bahwa tiap delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk mengikuti berbagai kompetisi bergengsi dalam keadaan baik, siap mental, tahu sopan santun, dan akhirnya tidak memalukan. Tugasnya berlangsung bukan cuma pra acara, dia membimbing mahasiswa selama masa persiapan hingga saat berlangsungnya kegiatan, bahkan ketika perlombaan selesai, dia masih tampil, membesarkan hati yang kalah, dan mengucapkan selamat kepada yang berhasil, serta menyampaikan pesan-pesan lainnya. Agaknya ia telah cukup berpengalaman dalam bidang ini. Pertama kali paman bertemu dengannya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Makassar guna mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, 18-23 Juli 2011. Pak Bisul ini pada dasarnya seorang yang baik dan ramah, tapi k...

Zaman

Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid : "Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!" Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang, “ Kalau mati, dengan berani ; kalau hidup, dengan berani . Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.” Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil". Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia, "Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapann...

Cacing

Jika anda menilai seorang hanya dari tampangnya, maka anda laksana cacing, yang indera penglihatannya hanya bisa membedakan terang dan gelap