Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2011

Blur

   Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain.     Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, keti...

Bisul

Namanya Bambang Sulistyawan, tapi dalam percakapan di antara kami, mahasiswa, kami menyebutnya Pak Bisul. Tampaknya ia adalah seorang dosen di Fakultas Kedokteran. Dalam birokrasi Universitas, tampaknya dia bertugas memastikan bahwa tiap delegasi mahasiswa yang dikirim ke luar kampus untuk mengikuti berbagai kompetisi bergengsi dalam keadaan baik, siap mental, tahu sopan santun, dan akhirnya tidak memalukan. Tugasnya berlangsung bukan cuma pra acara, dia membimbing mahasiswa selama masa persiapan hingga saat berlangsungnya kegiatan, bahkan ketika perlombaan selesai, dia masih tampil, membesarkan hati yang kalah, dan mengucapkan selamat kepada yang berhasil, serta menyampaikan pesan-pesan lainnya. Agaknya ia telah cukup berpengalaman dalam bidang ini. Pertama kali paman bertemu dengannya kira-kira 2 minggu sebelum keberangkatan saya dan kawan-kawan ke Makassar guna mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional, 18-23 Juli 2011. Pak Bisul ini pada dasarnya seorang yang baik dan ramah, tapi k...

Zaman

Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid : "Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!" Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang, “ Kalau mati, dengan berani ; kalau hidup, dengan berani . Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.” Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil". Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia, "Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapann...

Cacing

Jika anda menilai seorang hanya dari tampangnya, maka anda laksana cacing, yang indera penglihatannya hanya bisa membedakan terang dan gelap

Dermawan

Seperti benda yang panas, yang menyalurkan panasnya ke segala arah, seorang dermawan memberikan apa yang ia punya sehingga apa yang ia miliki sebanding dengan orang lain. Dia tidak akan pernah kehabisan hartanya, ia tak akan jatuh miskin. Sebagaimana suatu benda tidak akan kehilangan panasnya, dan anjlok ke suhu nol mutlak.

Sejarah

   10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu.    Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana ora...

Akihito

Gambar
Bayangin deh, pagi-pagi saat kamu menggeliat di tempat tidur, tanganmu menyenggol seseorang di sebelahmu. Pasti kamu kaget. Dan kamu bakalan lebih kaget, kalo saat kamu ngeliat mukanya, ternyata dia Akihito... Kaisar Jepang. Pasti kamu garuk-garuk kepala sambil mikir, 'Kenapa dia bisa ada di sini?'... Kaisar Akihito

Tawaran Terakhir

"DATANG dan pekerjakan aku," teriakku, sementara pagi hari aku berjalan di atas jalan berdebu. Dengan pedang di tangan, Raja datang dengan kereta perang. Dia menggenggam tanganku dan berkata, "Aku akan menyewamu dengan kekuasaanku." Tetapi kekuasaan tidak berarti apa-apa, dan dia pergi bersama kereta perangnya. Di siang bolong, rumah-rumah berdiri dengan pintu terkunci. Aku menyusur di atas jalan yang menikung. Lalu seorang lelaki tua datang dengan kantong penuh emas. Dia tertegun, lalu berkata, "Aku akan menyewamu dengan uangku." Dia menghitung keping demi keping, tetapi aku berpaling. Petang datang. Pinggiran kebun penuh bunga bermekaran. Pelayan cantik datang dan berkata, "Aku akan mempekerjakanmu dengan senyumku." Senyumnya pucat dan meleleh dalam air mata, dan dia berlalu sendiri dalam gelap. Matahari memapar pasir, gelombang laut membabibuta. Seorang anak sedang bermain dengan kerang. Dia mengangkat tangan dan tampaknya men...

Ketika Bulan Jatuh (Part II)

Oke, ngelanjutin resensi kemarin... Singkat aja ya... ... Maka, seperti yang dikehendaki pemerintah, masyarakat tetap tenang. Bahkan ketika malam Bulan purnama, dan Bulan tampak lebih besar dari biasanya, alih-alih ketakutan, orang-orang justru senang dan berharap Bulan selamanya tampak sebesar itu. Akhirnya setelah bunker-bunker selesai dibangun, melalui gereja, masyarakat diberitahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Maka gemparlah dimana-mana. Di sisi lain, Edgar Hopkins merasa lega karena tidak lagi menyimpan rahasia--sekarang ia bisa bercerita dan bertukar pikiran dengan orang-orang mengenai bencana yang diramalkan akan terjadi itu. Hari berganti hari, tibalah hari yang menurut kalkulasi para ahli Bulan akan pecah dan jatuh pada hari itu. 3 Mei, jam 8 malam. Sejak pagi orang-orang bersiap untuk masuk ke bunker perlindungan. Namun Hopkins berniat akan tinggal di rumahnya sendiri, apapun yang akan terjadi. Dia merasa senang karena ternyata bukan dia sendiri yang ingin tinggal di...

Ketika Bulan Jatuh (Part I)

Gambar
Setelah paman resign dari universitas konvensional, paman mendapat banyak kesempatan untuk membaca buku-buku yang paman sukai. Tapi paman masih mengikuti kebiasaan lama ketika mendekam di perpustakaan, dan dalam hal meminjam buku; hari Senin-Kamis buku-buku serius (filsafat, politik, ekonomi, sastra lama, dll.), koran n majalah (tak lupa majalah 'Penjebar Semangat'); dan hari Jum'at paman biasa meminjam buku untuk bekal weekend (meskipun sekarang weekend atau tidak, sama saja). Biasanya yang paman pinjam di hari Jum'at adalah novel, antologi puisi, buku sejarah, atau kumpulan esai Goenawan Mohamad (yang belum juga selesai paman baca).    Nah, Jum'at pekan lalu dalam rangka mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris, paman memilih novel terbitan Longman, yang bahasanya sudah disederhanakan dengan glosarium yang lengkap pula (cocok buat yang sedang beralih dari intermediate ke advanced ), dan buku biografi Haji Agus Salim yang dari buku tersebut, telah paman post k...