10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu. Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana ora...
Seorang guru yang merasa bahwa generasi muda masa kini tak menaruh perhatian terhadap sastra domestik yang bermutu, suatu ketika berseru kepada sekalian murid : "Siapa bisa menyerukan suatu kutipan dari karya sastrawan Indonesia terkemuka, kuganjar ia dengan hadiah setimpal!" Sejanak hening. Lantas sekonyong-konyong berdirilah seorang murid di pojok kelas. Bertutur lantang, “ Kalau mati, dengan berani ; kalau hidup, dengan berani . Kalau keberanian tidak ada, itulah sebabnya setiap bangsa asing bisa jajah kita!! Pramoedya Ananta Toer.” Wajah Sang Guru sumringah, "Kemarilah nak, Bapak tak segan-segan menghadiahi anak muda yang teringat kata-kata Pramoedya. Yang kau ucapkan tadi itu dalam betul maknanya. Inilah, di kantong Bapak cuma ada dua puluh ribu. Sini, ambil". Si Murid masih berdiri, menggigit bibir bawahnya, lalu berkatalah ia, "Apabila seseorang diupah karena apa yang ia ucapkan, adakah kita masih sezaman dengan saat orang ditangkap karena ucapann...
Terakhir kali paman bikin posting di sini, paman masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Masih idealis, cita-citanya setinggi langit, naif bukan main. 3 Tahun lebih telah berlalu, pahit manis kehidupan telah paman rasakan, sementara penyesalan tak kunjung hilang. Penyesalan telah meninggalkan Undip, penyesalan atas sikap pragmatis paman yang begitu bodoh. Tapi dalam masa 3 tahun lebih ini, telah datang pula saat-saat manis. Kehidupan yang layak di Jakarta, dan kesempatan bertualang ke beberapa kota. Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Sekarang paman menganggur di rumah. Hiks :'( Namun, tenang... paman belum putus asa, harapan masih ada.. Target paman : lulus S1 di usia 27/28 tahun, langsung ambil S2, riset riset dan riset, lanjut S3, kejar gelar Pofessor. Meraih cita-cita duniawi : FFC (Farm, Factory, and Classroom). Bismillah...
Komentar
Posting Komentar