Terakhir kali paman bikin posting di sini, paman masih berstatus sebagai mahasiswa Universitas Diponegoro. Masih idealis, cita-citanya setinggi langit, naif bukan main. 3 Tahun lebih telah berlalu, pahit manis kehidupan telah paman rasakan, sementara penyesalan tak kunjung hilang. Penyesalan telah meninggalkan Undip, penyesalan atas sikap pragmatis paman yang begitu bodoh. Tapi dalam masa 3 tahun lebih ini, telah datang pula saat-saat manis. Kehidupan yang layak di Jakarta, dan kesempatan bertualang ke beberapa kota. Kegagalan dan keberhasilan silih berganti. Sekarang paman menganggur di rumah. Hiks :'( Namun, tenang... paman belum putus asa, harapan masih ada.. Target paman : lulus S1 di usia 27/28 tahun, langsung ambil S2, riset riset dan riset, lanjut S3, kejar gelar Pofessor. Meraih cita-cita duniawi : FFC (Farm, Factory, and Classroom). Bismillah...
10 tahun yang lalu, pertengahan tahun 2001, sebuah stasiun televisi swasta (RCTI atau SCTV, paman lupa) selama seminggu menampilkan serial dokumenter bertajuk 100 Tahun Bung Karno, acara tersebut ditayangkan setelah siaran berita petang, sekitar pukul 18.30. Paman tak pernah melewatkan tayangan spesial itu. Waktu itu paman tinggal di rumah kontrakan yang sekarang kami sebut 'Rumah Dasri' (pemilik rumah bernama Dasri). Televisi berada di ruang tamu yang sekaligus berfungsi sebagai ruang keluarga. Dan ketika penayangan '100 Tahun Bung Karno' itu, entah kenapa lampu ruangan tersebut selalu mati. Kemungkinan kabelnya putus. Paman tak ingat persis. Yang paman ingat cuma ruangan gelap, dan paman suka acara itu. Mungkin itulah awal ketertarikan paman kepada sejarah. Mengesankan sekali, mereka yang ada di layar televisi itu--sebagian besar telah mati--semua bergerak cepat, berbicara tanpa suara. Mereka seolah hidup lagi. Timbul kesadaran di benak paman, sebagaimana ora...
Alkisah, Tuhan menciptakan seorang manusia yang istimewa, sebut saja namanya Amin. Ketika dilahirkan, tak tampak sesuatu pun yang istimewa, ia seperti bayi lainnya. Semua tentang dirinya tampak normal pada masa balitanya. Keanehan mulai muncul ketika ia berusia 5 tahun, setelah ia tak lagi dimandikan oleh ibunya, dan waktu itu dia mulai ikut mengaji di mushalla selepas maghrib. Singkatnya, setelah dia mulai mengenal norma-norma kesusilaan, dia menjadi berbeda dengan orang lain. Bermula ketika pada suatu saat, sepulang sekolah, ia lupa uluk salam dan langsung ke dapur mencari ibunya, yang ternyata tidak berada di sana, maka ia menuju ke kamar orangtuanya, dan segera setelah dia membuka pintu, dia menjerit. Waktu itu ibunya berada di kamar sedang mengganti baju, Amin melihatnya, dan menjerit karena yang dia lihat bukan sosok ibunya melainkan sebuah bayangan blur, buram, warna sawo matang dengan pulasan warna hitam di atasnya, dan lebih mengerikan lagi, keti...
Komentar
Posting Komentar